Dasar Berbisnis, Etika Dalam Menjalankan Bisnis, makna dan pengertian bisnis, bagaimana bisnis dimengerti dan dijalankan, memahami bisnis dalam etika dan praktik lapangan.

Dasar Berbisnis, Etika Dalam Menjalankan Bisnis

Dasar Berbisnis, Etika Dalam Menjalankan Bisnis,  makna dan pengertian bisnis, bagaimana bisnis dimengerti dan dijalankan, memahami bisnis dalam etika dan praktik lapangan. Anoraga (1996) mengartikan bahwa bisnis memiliki makna dasar “The buying and selling of goods and service.” Dalam kamus bahasa Indonesia , bisnis diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan. Pakar bisnis Skinner (1992) , mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat antara satu dengan yang lainnya. Sementara Attner (1994) mengatakan, bisnis adalah organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh keuntungan.
Saya tertarik dengan apa yang dikemukankan Skinner di atas. Bisnis tidak semata-mata diartikan sebagai pertukaran barang atau jasa dengan uang. Atau semata-mata aktifitas produksi untuk mencari keuntungan saja. Skinner memberikan tambahan bahwa bisnis juga harus memberikan manfaat antara kedua belah pihak yang sedang melakukan transaksi bisnis. Jadi harus tidak ada yang dirugikan dalam bertransaksi bisnis.

Sering kali para pelaku bisnis hanya memikirkan usaha untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin. Ketika transaksi jual beli telah terjadi antara produsen dengan konsumen, seolah-olah tanggungjawab produsen sudah berhenti sampai disitu. Asalkan barang/jasa yang dibeli sudah ditangan konsumen, produsen seolah lupa memikirkan kepuasan pelanggan dan tidak ada jaminan garansi jika tidak puas. Selama ini terus terang saya lebih sering berlaku sebagai konsumen daripada sebagai produsen. Dan jika tidak ada jaminan kepuasan dari produsen yang terlibat transaksi bisnis dengan saya, saya juga sering merasa dikecewakan.

Sebagai pelaku bisnis, terutama jika kita berlaku sebagai produsen, jaminan kepuasan dan garansi bahwa tidak akan ada masalah dengan produk yang kita buat hendaknya diperhatikan dengan baik. Hal ini untuk melindungi hak konsumen yang seringkali diabaikan oleh produsen. Sekaligus menjamin bahwa kepuasan pelanggan sudah kita utamakan. Sebagai produsen, kita tentunya telah ‘dipuaskan’ dengan menerima pembayaran atas produk kita, namun di sisi konsumen, ‘kepuasan’ itu tidak hanya saat produk kita telah mereka terima melainkan hingga maksud dari konsumen tersebut membeli produk kita telah terpenuhi juga.

Misalkan ada konsumen yang membeli sebuah website dari seorang penyedia jasa pembuatan website. Sang konsumen berharap dengan adanya website, bisnisnya bisa diakses via internet dan mudah melakukan pengelolahan tanpa adanya error di tengah jalan. Untuk menggaransi harapan konsumen ini, si penyedia jasa ini harus memberikan pendampingan terus menerus hingga konsumen benar-benar bisa mengoperasikan website yang dia buat. Tidak cukup hanya dengan memberika ID dan password website yang sudah online saja.

Contoh lain, jika orang membeli rice cooker baru. Harus ada buku manual yang memberikan panduan penggunaan supaya konsumen mendapatkan hasil yang dia harapkan. Yakni nasi yang tidak hanya matang namun matang dengan kualitas baik seperti yang konsumen dapatkan melalui iklan. Jika dengan buku manual tersebut konsumen masih belum bisa mengoperasikan atau mendapatkan hasil sesuai yang dia harapkan, harus ada jalur lain dari produsen untuk terus memberikan panduan hingga konsumen benar-benar puas. Dalam kasus rice cooker ini, produsen tidak cukup jika hanya bertanggung jawab: asal barangnya sudah diterima pembeli. Dasar Berbisnis, Etika Dalam Menjalankan Bisnis,  makna dan pengertian bisnis, bagaimana bisnis dimengerti dan dijalankan, memahami bisnis dalam etika dan praktik lapangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *