kerajinan perak yogyakarta, hasil kerajinan perak yogyakarta, perak adalah hasil kerajinan, macam-macam produck kerajinan perak kotagede

Perajin Perak Yogyakarta Tergerus, Faktor Utama Kebijakan PPN

Kebijakan Pajak Pertumbuhan Nilai, kebijakan PPN ternyata membarikan dampak yang signifikan bagi perajin perak yogyakarta. Penurun jumlah perajin perak yang ada di Yogyakarta diperkirakan sekitar 50% dari jumlah sebelum 2008 atau mulainya krisis finansial global. Ketua Koperasi Produksi Pengusaha Perak Yogyakarta, Sutoyo membenarkan jumlah perajin perak terus menurun. Meski data pasti memang tidak ada, ia memperkirakan penurunan mencapai sekitar 50%. Dari sebelumnya sekitar 2.000 perajin yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya, kini tinggal sekitar 1.000 perajin. Penurun itu, ungkap dia paling besar memang dipengaruhi lesunya pasar perak. Kelesuan pasar membuat para perajin tidak tertarik melakoni pekerjaan itu karena penghasilannya dianggap tidak menjanjikan. Adapun kebijakan Pemerintah Pusat juga dinilai tidak tanggap dengan permasalahan yang dialami industri perak. “Pemerintah kan masih menerapkan Ppn [Pajak Pertambahan Nilai] 10% untuk bahan baku. Itu membebani di tengah pangsa pasar yang lesu.

Kami berharap pemerintah menghapuskan itu,” ungkap dia, Selasa (16/4/2013). Rendahnya daya tarik kerajinan perak untuk dijadikan penghasilan utama juga diungkapkan salah satu perajin dari Bumen, Kotagede, Wanto. Dia menjelaskan, di kampungnya dahulu mayoritas masyarakat bekerja sebagai perajin perak. Namun saat ini sudah banyak yang beralih pekerjaan. Bahkan disebutnya, generasi muda sekitar usia 20 tahun hampir sudah tidak ada yang mau menjadi perajin perak. “Sekarang hampir sudah enggak ada yang melanjutkan. Soalnya kan penghasilannya tidak menjanjikan. Apalagi sekarang ini banyak yang gulung tikar,” terang dia. Wanto sendiri masih bertahan karena memang tidak memiliki keahlian lain. Pria yang mengaku hampir sepuluh tahun jadi perajin perak ini belum berniat meninggalkan pekerjaannya kecuali jika diberhentikan perusahaan tempat ia bekerja. Penurun jumlah perajin juga diakui pemilik Salim Silver, Prio Salim. Dia mengaku sebelum 2008 lalu masih memiliki sekitar 60 perajin.

Namun saat ini ia tinggal memiliki 24 perajin. Penurun perajin disebabkan beberapa hal di antaranya pengurangan pegawai yang dilakukan sejak krisis Amerika yang merupakan pangsa pasar utama. Selain itu juga sulitnya mencari perajin yang benar-benar berkualitas saat dibutuhkan. “Kalau minat sih masih ada asal pegusaha pintar-pintar membangun citra,” terang dia. Kepala Disperindagkoptan, Heru Pria Warjaka juga mengungkapkan sudah beberapa lama mengamati kemungkinan permasalahan regenerasi perajin perak. Namun hal itu, menurutnya sudah coba diantisipasi Pemkot maupun Pemprov. Upaya yang dilakukan yaitu melalui beberapa pelatihan-pelatihan. “Pengkaderan sudah jalan, yang muda-muda juga banyak dan biasanya kami memilih yang warga asli Jogja,” ungkap dia. Hanya saja, Heru menyatakan pihaknya memang tidak dapat menjamin keefektifan pengkaderan tersebut. Pihaknya tidak dapat memaksa setiap kader yang sudah mengikuti pelatihan untuk melanjutkan usaha di Jogja. Bahkan jika terpaksa SDM tersebut pindah ke luar kota untuk mencari peluang lebih, hal itu tidak terlalu menjadi masalah. “Kami ada bantuan modal yang bisa diakses. Tapi kalau alih pekerjaan atau alih tempat itu di luar jangkauan kami,” tandas dia. Perajin perak yogyakarta tergerus, faktor utama kebijakan PPN.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *