pengurus HPSI DIY, daftar pengurus Himpunan Pengusaha Santri DIY, gerakan ekonomi Yogyakarta, Sejarah pembentukan HIPSI

Buchori Al-Zahrowi Terpilih Sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) DIY

Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) yang merupakan turunan dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU lahir pada tanggal 03 Februari 2012 kini mulai merambah ke wilayah-wilayah, tak luput Daerah Isitimewa Yogyakarta pun ikut membentuk badan otonom yang konsen diwalayah pengembangan ekonomi ini. Pembentukan HIPSI DIY diawali dari acara HARLAH NU ke-90 yakni Temu Saudagar dan Lintas Profesi yang dilakasankaan di PP.Ngrukem Bantul. Pada pertemuan itu direkomondasikan untuk membentuk Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) wilayah DIY.
Tidak lanjut dari itu diadakan pertemuan para pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU serta mengundang para pengusaha yang memiliki latar belakang NU. Pada tanggal 01 Juni 2013 pertemuan diadakan di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY ini akhirnya menyepakati dan membantuk HIPSI wilayah DIY.
Pada pembentukan HIPSI DIY ini Buchori Al-Zahrowi yang juga merupakan pengusaha berlatar belakang NU terpilih untuk menjadi ketua umum secara aklamasi. “Kepengurusan ini kedepan akan melakukan banyak ‘do’ daripada cuman rapat, tanpa melupakan esensi dan tujuan HIPSI” tuturnya. Dalam pertemuan itu juga ditunjuk para pengurus yang menempati devisi-devisi organisasi, baik dari koordinator maupun anggota. Ketua terpilih mengungkapkan “kalau suatu hari dari pengurus didapati aktif dalam kepartaian maka dengan rasa hormat ia akan dikeluarkan dari kepengurusan”, hal ini diungkapkan sebagai bentuk komitment bahwa HIPSI akan fokus dan konsent dalam sektor ekonomi umat. Rapat yang dipimpin oleh ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (HIPSI) NU DIY Ky.H.Habib Syakur ini berljalan lancar, pada pertemuan itu disinggung kriteria yang bisa masuk sebagai anggota, secara umum HIPSI mewadahi para pengusaha maupun calon pengusaha yang memiliki umur masih muda berkisar dibawah 40 tahun, hal ini dikarenakan bahwa untuk para pengusaha yang memiliki umur lebih memiliki naungan yakni Himpunan Pengusaha NU (HPN), jadi HIPSI diperuntukan bagi pengusaha maupun calon pengusaha kaum muda. Lantas muncul pertanyaan bagaimana dengan pemuda yang bukan santri?, pertanyaan ini mendapat sambutan bahwa HIPSI tidak hanya terikat dengan label santri dan untuk itu ia terbuka untuk umum yang ingin andil dalam badan ekonomi ini, “HIPSI bisa menjadi ruang pencetak para santri untuk menjadi pengusaha dan menjadikan santri para pengusaha” tutur Sekjen terpilih. HIPSI DIY ini direncanakan sebelum bulan puasa telah memulai program kerja sehingga menuntut para pengurus untuk konsolidasi dan persiapan yang matang.
Rapat yang diadakan dari pukul 14.00 ini berakhir pukul 16.30 dan ditutup dengan doa oleh ketua RMI NU DIY, semoga dengan lahirnya HIPSI DIY ini mampu mengangkat kemiskinan bagi jam’iyah pada khususnya maupun Yogyakarta pada umumnya.
Amin.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *